Halaman

Kamis, 02 Februari 2012

Pendakian Kedua ke Gunung Gede

Untuk kedua kalinya, gw kembali memilih Gunung Gede untuk jadi destinasi pendakian. Bersama dengan Bastian, Choliz, Martin, Bang Yudi, dan Codet (bukan nama sebenarnya). Seharusnya sih nambah satu orang lagi, Vigor. Namun sayangnya Vigor harus menjadi anak yang baik dan gak jadi ikut. Padahal Vigorlah yang mengurus administrasi pendakian kami. Terima kasih dari hati yang paling dalam bro. :D
Tanggal 10-11 September 2011, udah lama sih. Tapi baru sempet mosting hari ini. Rupanya kami memilih waktu yang tepat, karena selama pendakian tidak turun hujan dan cuacanya super cerah, this journey is superbly amazing. I'll tell you why.

Kami menginap di rumah ini, request sarapan di sini, dan pada saat turun pun kami kembali mampir ke rumah ini. Kami tiba di Desa Gunung Putri sekitar jam 1 malam. Disambut dengan keramahan khas orang-orang Sunda, kami menginap di sini selama semalam. Mandi, sarapan, re-packing, kemudian mulai mendaki sekitar jam 8.

Sesuai prosedur, kami harus menyerahkan Simaksi di Pos ini dan melaporkan semua barang bawaan kami. Jam 8.30 kami mulai pendakian.

Kami sampai di ketinggian 1900 mdpl jam 09.45. Pos pertama yang kami lewati, Legok Leunca. Perjalanan masih sangaaatttt panjang. :D

Next stop: Buntut Lutung di ketinggian 2250 mdpl pada jam 10.05. Codet langsung ngeluarin amunisinya, pisang dan kurma yang paling enak sedunia. You know lah, semua jenis makanan klo di bawa ke gunung jadi makanan paling enak sedunia. :D

Akhirnya kami sampai di Simpang Maleber pada ketinggian 2600 mdpl jam 11.43. Well, terlalu awal sih untuk mengatakan 'akhirnya', tapi setidaknya kami udah sampai di ketinggian 2600. Kan puncak Gede 2.900, berarti udah deket lah. Heheheh....

Begitulah. Memang masih terlalu awal gw mengatakan 'akhirnya', karena ternyata perjalanan dari Simpang Maleber menuju Suryakencana masih jauh. Dua jam setelah istirahat di Simpang Maleber, kami masih harus berhadapan dengan track yang... Emmm.... Gitu deh pokoknya.

Allohuakbar! Akhirnya kami sampai juga di Suryakencana pada jam 14.30. Dua setengah jam dari Simpang Maleber bok! Tapi ya gak percuma sih. Suryakencana memberikan pemandangan yang breathtaking dan bikin speechless. Dan cuacanya? Maha Besar Alloh yang menguasai Langit, Bumi, dan yang berada diantaranya. Super!

Inilah pemandangan backyard kami. Langit biru yang kaki-kakinya dihiasi oleh bukit lain Suryakencana.

Salah satu pemandangan yang membuat saya cemburu. Romantis sekali. Walau rumput Suryakencana meranggas, walau bukan di Lembah Mandalawangi, tapi ini tu romantis! Pemandangan luasnya Suryakencana, langit biru, dan duduk bersama orang yang Anda sayangi, can't life better than that?!

Kami datang di musim kemarau. Kami dapat langit biru dan cuaca cerah, tapi tidak dengan gemericik sungai yang mengalir di Suryakencana. Harusnya sungai yang airnya terus berganti, tapi kami bersyukur dengan adanya 'genangan' air ini.

Codet yang jadi bapak rumah tangga sedang memasak untuk makan sore sekaligus makan malam kami. Masak di alam bebas ituuuu.... Sesuatu. Apalagi klo jago masaknya. Surgawi banget jadinya.

Another perfect moment. Hari itu sedang bulan purnama. Believe it or not, foto ini gw jepret jam 16.45an. A beautiful and romantic moon. Waktu ngeliatnya, dada terasa sesak, kagum dengan keindahan ciptaan Alloh yang satu ini.
Malamnya, kami memustuskan untuk tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain. Tidur, karena badan rasanya mau rontok banget.

Inilah 'bayaran' dari lelah kami. Pemandangan dari atas yang luar biasa dan cuaca yang sempurna. Angin bertiup kencang membawa semua kabut entah kemana, everything is perfect!
Pagi jam 6an kami mulai naik. Melewati jalur berbatu, 25 menitan kemudian kami sudah sampai di puncak.
Bisakah kamu lihat sebuah garis yang ada di langit. Amazing isn't it?!

Dan kami pun mulai beraksi. Tripod is our photographer!



Kami kemudian turun dari puncak jam 07.30, mengejar waktu agar dapat segera pulang ke Jakarta. Tapi sebelumnya kami isi tenaga dulu. Makan mie instan surgawi ala chef Codet. :P

Dan sebuah foto terakhir sebelum kami meninggalkan indahnya Suryakencana. Jam 9.30 kami mulai bergerak turun. Menembus cuaca aneh Suryakencana. Aneh, anginnya berhembus dingin, namun terik matahari sedikit memanaskan kulit. Adios Suryakencana. Grazie!
*Another version

Miko.
Lapangan Banteng, 2 Pebruari 2012