Halaman

Rabu, 14 November 2012

Dataran Tinggi Dieng


Walau madingnya udah terbit, tapi gak ada salahnya toh kalau saya berbagi pengalaman berkesan saya waktu liburan ke Dieng bulan Maret lalu?!
Rasa rindu akan suasana hening, sejuk, njawani, dan mistisnya Dieng sudah tak tertahan lagi. Kerinduan yang membuncah dan membuat gelisah setiap terdengar namanya. Dan panasnya udara Jakarta selalu mengingatkan saya akan damainya suasana Dieng. Harus kesana, A.S.A.P.
Saya belum cukup berani untuk bepergian sendiri. Entah karena bahaya yang setiap saat mengintai, atau kesendirian yang menakutkan. Begitupun kali ini, saya memutuskan untuk tidak pergi sendirian. Setelah melalui proses ngomporin yang panjang, didapatkanlah 3 teman perjalanan: Vigor, Handono, dan Cholis. Mode transportasi yang kami pilih awalnya bis. Namun, hidayah turun untuk Vigor. Vigor memutuskan untuk menggunakan/mengendarai mobilnya. Good. Jadi lebih fleksibel berangkatnya.

Minggu, 04 November 2012

Museum Sasmita Loka Jenderal Besar Abdul Haris Nasution


Profil Singkat Sang Jenderal Besar


Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia[2] yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean.
 Beliau adalah penggagas Dwifungsi ABRI. Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia Masa Jabatan 10 Juli 1959 s.d. 22 Februari 1966, kemudian menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Masa Jabatan 1966 s.d. 1972.
Tahun 2000, masih inget banget waktu beliau meninggal. Entah kenapa sedih sekali rasanya. Satu lagi pahlawan revolusi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Saat itu yang terpikir rasanya ingin sekali berbincang dengan beliau mengenai sejarah Indonesia di masa lalu. Rest In Peace, semoga diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Senin, 23 Juli 2012

Move On


"Kamu belum bisa melupakannya."
"Kenapa? Tak suka kah dirimu kepada lelaki, yang apabila ia jatuh cinta, maka ia mencintai dengan sangat? Tak suka kah dirimu jika suatu saat cinta yang seperti itu jatuh padamu?"


Selintas terpikir saat membuat RSB di kubicle tercinta.

Selasa, 15 Mei 2012

Del Piero Adalah Juventus



Juventus. Cerita dimulai saat semua orang disekitarku berbicara tentang sepak bola. Sekitar tahun 1998, saat aku masih duduk di bangku kelas 5 SD. Saat itu pula aku memutuskan untuk menjadi seorang penggemar sepak bola. Pada tahun tersebut, Liga Italia Serie-A adalah satu-satunya siaran liga Eropa yang bs kusaksikan. Pada suatu malam, sebuah pertandingan terjadi. Juventus sedang bertanding dengan klub yang aku sudah lupa. Juventus menang, dan aku merasa gembira sekali atas kemenangannya. Rasa gembira yang membuncah di dalam dada. Rasa gembira yang berbeda dan aneh. Sejak saat itu, aku seorang Juventini. Sebuah cinta pada pandangan pertama.
Saat itu aku hanya jadi penggemar yang biasa saja. Hanya menonton pertandingan-pertandingan mereka di TV. Namun saat aku SMP, rasa suka terhadap Juventus semakin tinggi. Aku mulai menyimak setiap berita-berita tentang Juventus. Dari koran maupun dari TV.
Setiap Selasa dan Sabtu di kampungku ada 'pasaran'. Aku yang seorang newbie Juventini ini jadi seorang yang gemar mengoleksi poster-poster pemain Juventus. Kutempel poster skuad favoritku di dinding kamar. Terlihat biasa, tapi tidak bagiku. Melihat poster itu, aku jadi ingat bagaimana para pemain Juventus berlari-lari di lapangan dengan penuh semangat. Lari mengejar kemenangan, mengejar impian, untuk menjadi juara Italia. Ingatan yang kemudian membangkitkan semangatku setiap pagi untuk ikut pula bersemangat dalam mengejar impian.


Senin, 07 Mei 2012

Monumen Pancasila Sakti

Udah lama pengen banget ke Monumen Pancasila Sakti. Maklum, sebagai peminat cerita G-30S/PKI, hal-hal yang berhubungan dengannya selalu menarik perhatian saya. Setelah sebelumnya berkunjung ke 'rumah' Pak A. Yani dan Pak Nasution, destinasi peninggalan peristiwa G-30S/PKI berikutnya tentu monumen ini. Pengen liat langsung lubang buaya, tempat dimana 7 Pahlawan Revolusi 'dikuburkan' secara biadab oleh PKI. Tujuh orang yang 'dikorbankan' demi revolusi Indonesia.

Rabu, 25 April 2012

Jogja Ke Candi Prambanan

Udah lama pengen banget berwisata ke Candi Prambanan, satu dari dua candi paling terkenal di Indonesia. Tapi rupanya Jogja terlalu luas. Tiap ke Jogja pasti hanya bisa berlama-lama di kotanya, nggak sempat untuk berwisata ke daerah-daerah wisata lain di sekitarnya.

Berdua dengan seorang sahabat, mengusung misi yang sama dengan kegiatan travelling lainnya, kondangan! Sebenarnya sih acara pernikahannya di Magelang, namun karena jarak Jogja-Magelang yang dekat dan karena tempat wisata di Magelang yang kurang potensial, akhirnya kami memutuskan untuk menikmati wisata di Jogja saja.


Selasa, 24 April 2012

Touchdown Lamongan


Alhamdulillah jalan-jalan lagi. Kali ini dengan misi yang sama, kondangan. No kondangan, no travelling. Seorang sahabat berjodoh dengan teman dari sahabat yang lain. Emang yang namanya jodoh kagak kemane deh, adaaaaa aja jalannya.

Kali ini gw kondangan ke Lamongan. I didn't know anything about this city. Berangkat naik kereta turun di Stasiun Babat, kemudian perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot. Seperti kebanyakan kota-kota di Jawa, jalanannya sepi dan tenang. Apalagi di depan rumah sahabat yg saya tebengin terhampar sawah luas. Oh I love Java.

Setelah mandi dan make-up-an. Kami berempat langsung berangkat ke salah satu tempat wisata paling femes di Lamongan, Wisata Bahari Lamongan (WBL). Jauh bro, perjalanannya 1 jam dari rumah sahabat gw. Naik 2 motor berempat. Melewati jalanan aspal yang sedikit berlubang.
Satu jam kemudian, sampailah kami di WBL. Cekidot foto-fotonya.


Jumat, 30 Maret 2012

Menyusuri Reruntuhan Candi Ratu Boko


Nama Candi Boko memang tidak sepopuler Candi Borobudur ataupun Candi Prambanan. Namun tetap saja, candi adalah peninggalan sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang. Walau hanya berupa tumpukan batu, candi menceritakan banyak hal kepada kita, hanya saja kadang kitanya yang tidak bisa dan tidak mau bisa untuk 'membaca' apa yang diceritakan oleh batu-batu candi.
Letak Candi Boko yang berada di 196 mdpl menyuguhkan pemandangan yang bikin cenat-cenut hati. Karena masih kurang terkenal, lokasinya juga sepi dan masih hijau. Suasana yang bikin kita jadi kangen band buat balik lagi ke tempat ini.

Mengusung misi untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Magelang, gw dan temen gw memutuskan untuk terlebih dahulu berjalan-jalan di Jogja. Sudah lama gw pengen mengunjungi Candi Prambanan. Candi yang sangat legendaris, selegendaris Candi Borobudur.


Kamis, 29 Maret 2012

A Close Stranger


Berawal dari twitnya @AnakPetir, kenangan gw mengangkasa ke masa lalu. Kalau bisa kembali ke masa lalu, apa yang benar-benar ingin gw ulang?

Kemudian gw teringat akan mbah kakung. Mbah yang gak pernah gw ajak ngobrol. Seorang Mbah yang tiap pagi buta, saat dunia masih berkabut, berlari-lari kecil untuk menyehatkan raganya. Mbah kakung yang rajin sekali sholatnya, yang taat ibadahnya.

Entah kenapa setiap gw liat wajah mbah, gw merasa punya chemistry dengan beliau. Gw merasa kami memiliki sudut pandang, selera, dan passion yang sama. Gw merasa melihat kepribadian gw pada diri beliau.
Sekarang pengen banget ketemu ama mbah kakung trus ngobrol tentang masa lalu beliau. Apalagi buat seorang peminat sejarah, gw seharusnya bisa mendengarkan cerita jaman perjuangan sama mbah, dan melihat bagaimana 'jaman dulu' dari mata beliau.

Waktu itu lagi liburan sekolah, seperti biasa gw menghabiskan liburan di rumah orang tua. Pada suatu hari, mamak manggil gw, katanya gw dipanggil sama mbah kakung. Aneh. Kami berdua bisa dibilang gak pernah ngobrol, kami saling menatap dengan tatapan mata 'stranger', dan tiba-tiba mbah manggil gw?
Rupanya mbah sedang berbaring di ranjangnya sambil merintih seperti sedang menahan sakit. Disitu ada mbah putri dan juga bapak. Kami berempat duduk disekeliling mbah kakung, mbah putri sedang memijat-mijat kaki mbah kakung. That awkward moment. Sepertinya mbah kakung merasa inilah 'saatnya'. Walaupun ternyata mbah berumur lebih panjang dari hari itu.
Saat itu gw sadar. Walau kami gak akrab sebagai kakek dan cucu, tapi tetap saja kami memiliki hubungan yang erat, hubungan nasab, hubungan darah. Mbah ingin di saat-saat terakhirnya, dia bisa berkumpul bersama anak cucunya dan mengucapkan semacam kata perpisahan.

Hingga suatu hari. Asisten rumah tangganya mbak jemput gw di sekolah. Gw diminta pulang. Sebagai anak SD gw sih seneng-seneng aja. Di rumah ternyata mbak lagi packing, kata mbak "Mbah Wir ninggal." Gw gak tau mesti bereaksi seperti apa. Yang gw pikirin adalah rasa senang karena akan ketemu orang tua di kampung.
Sesampainya di kampung, mbah udah dikafanin. Anak cucunya duduk di sekitarnya. Saat itu gw masih merasa biasa aja. Mungkin karena gw gak terlalu akrab dengan beliau, jadi gak merasa kehilangan. Rasa kehilangan yang datangnya sangat terlambat di kemudian hari.

Andai bisa kembali ke masa lalu, gw pengen banget ngobrol sama mbah kakung. Pengen denger cerita-ceritanya dan nasehat-nasehatnya. Pengen menatapnya dengan tatapan seorang cucu kepada kakeknya. Menyesal memang tiada berguna, tapi lebih baik daripada tidak merasakan apapun. Hanya doa yang bisa menghubungan kami. Doa yang oleh Alloh disambungkan dengan aliran darah, dengan nasab.

Kamis, 15 Maret 2012

Touchdown Semarang dan Pertama Kali.....

Assalamu'alaikum...


Moment pertama biasanya jadi moment yang tak terlupakan. Misalnya pertama kali ke Jakarta atau hari pertama masuk kerja. Kali ini, gw kembali mengalami moment 'Pertama Kali' yang sebenarnya norak untuk diketahui publik. Heheh.... Setelah bertahun-tahun hidup, akhirnya gw ngerasain juga yang namanya naik pesawat, dan penerbangan pertama saya dilakukan bersama maskapai paling *uhuk* di Indonesia, Lion Air.

First Flight 

Le My First Plane
 Tanggal 1 Oktober 2011. Nervous pun datang, berjuta pertanyaan datang, yang intinya "Bagaimana menjadi penumpang pesawat terbang yang baik dan benar sesuai dengan Perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia dan sesuai dengan tuntunan syariah." Maklum, anak kampung, orang susah pula. Gw dulu terbiasa pergi kemana-mana jalan kaki, termasuk untuk sekedar beli bakso di pasar yang jauhnya sekitar 20 kilometer. Menembus rimba raya, sawah, dan perkampungan. Nah ini beda, gw bepergian lewat 'atas', lewat 'langit', yang pastinya beda banget.

Waktu itu gw pergi bareng Hasan ke Semarang untuk menghadiri pernikahan teman. Alasan klise yang 'melegalkan' gw untuk pergi kemana pun di seluruh Indonesia. Setelah duduk manis di pesawat, melihat-lihat keluar dari jendela yang kebetulan tepat berada di sisi kanan gw. Sebelumnya udah dibilangin sih ama Hasan, pas take off pesawat akan 'bergetar' dan akan sedikit bikin parno. Tapi setelah take off, ternyata biasa aja tuh. Seolah gw pernah mengendarai kendaraan yang lebih 'bergetar' dari pesawat.

Cuaca cerah, pemandangan dari pesawat terlihat sangat indah. Dan terlihat sebuah puncak gunung, subhanalloh....
Yang paling 'sesuatu' penerbangannya ya waktu pesawatnya berbelok, sebuah moment yang 'OMG OMG OMG OMG OMG OMG!!!' That. Mini. Heart attack.
Setelah pesawat landing dan penumpang keluar dr pesawat, dalam hati langsung membayangkan gw sujud di landasan dan teriak "I'm Aliveeeee!!!"



Pusing-Pusing Semarang

Waktu itu kami ke Semarang hari Sabtu-Minggu, tapi hari Minggu pagi udah harus balik ke Jakarta, karena kehabisan tiket kereta untuk Minggu sore. Alhasil di Semarang cuma bisa mengunjungi Kota Tua dan Lawang Sewu.
Gereja Blenduk
Eksotisme Kota Tua


Akhirnya kesampean juga berkunjung ke Lawang Sewu. Nuansa mistisnya gak terlalu kerasa sih, cuma gelap aja yang terkadang mendramatisir perasaan.

Lawang Sewu



Konon dari sini sering terdengar suara tangisan perempuan
I have no idea what I'm doing
Harusnya bisa diberdayakan nih. Misalnya dijadikan Mall. :P

Ruang yang menceritakan tentang proses pemugaran Lawang Sewu. Orang Belanda masalah bikin bangunan emang jago deh. Awet ampe puluhan tahun. Mungkin karena mereka menganggap bangunan sebagai investasi penting baik secara ekonomi dan kebudayaan, makanya dibuatnya dengan baik dan duitnya gak dikorupsi. :P



Adios Semarang! Terima kasih atas pengalaman berharganya. Semoga lain kali dapat kembali berkunjung dan menjelajah lagi.


Miko.
Lapangan Banteng, 15 Maret 2012.

Kamis, 02 Februari 2012

Pendakian Kedua ke Gunung Gede

Untuk kedua kalinya, gw kembali memilih Gunung Gede untuk jadi destinasi pendakian. Bersama dengan Bastian, Choliz, Martin, Bang Yudi, dan Codet (bukan nama sebenarnya). Seharusnya sih nambah satu orang lagi, Vigor. Namun sayangnya Vigor harus menjadi anak yang baik dan gak jadi ikut. Padahal Vigorlah yang mengurus administrasi pendakian kami. Terima kasih dari hati yang paling dalam bro. :D
Tanggal 10-11 September 2011, udah lama sih. Tapi baru sempet mosting hari ini. Rupanya kami memilih waktu yang tepat, karena selama pendakian tidak turun hujan dan cuacanya super cerah, this journey is superbly amazing. I'll tell you why.

Kami menginap di rumah ini, request sarapan di sini, dan pada saat turun pun kami kembali mampir ke rumah ini. Kami tiba di Desa Gunung Putri sekitar jam 1 malam. Disambut dengan keramahan khas orang-orang Sunda, kami menginap di sini selama semalam. Mandi, sarapan, re-packing, kemudian mulai mendaki sekitar jam 8.

Sesuai prosedur, kami harus menyerahkan Simaksi di Pos ini dan melaporkan semua barang bawaan kami. Jam 8.30 kami mulai pendakian.

Kami sampai di ketinggian 1900 mdpl jam 09.45. Pos pertama yang kami lewati, Legok Leunca. Perjalanan masih sangaaatttt panjang. :D

Next stop: Buntut Lutung di ketinggian 2250 mdpl pada jam 10.05. Codet langsung ngeluarin amunisinya, pisang dan kurma yang paling enak sedunia. You know lah, semua jenis makanan klo di bawa ke gunung jadi makanan paling enak sedunia. :D

Akhirnya kami sampai di Simpang Maleber pada ketinggian 2600 mdpl jam 11.43. Well, terlalu awal sih untuk mengatakan 'akhirnya', tapi setidaknya kami udah sampai di ketinggian 2600. Kan puncak Gede 2.900, berarti udah deket lah. Heheheh....

Begitulah. Memang masih terlalu awal gw mengatakan 'akhirnya', karena ternyata perjalanan dari Simpang Maleber menuju Suryakencana masih jauh. Dua jam setelah istirahat di Simpang Maleber, kami masih harus berhadapan dengan track yang... Emmm.... Gitu deh pokoknya.

Allohuakbar! Akhirnya kami sampai juga di Suryakencana pada jam 14.30. Dua setengah jam dari Simpang Maleber bok! Tapi ya gak percuma sih. Suryakencana memberikan pemandangan yang breathtaking dan bikin speechless. Dan cuacanya? Maha Besar Alloh yang menguasai Langit, Bumi, dan yang berada diantaranya. Super!

Inilah pemandangan backyard kami. Langit biru yang kaki-kakinya dihiasi oleh bukit lain Suryakencana.

Salah satu pemandangan yang membuat saya cemburu. Romantis sekali. Walau rumput Suryakencana meranggas, walau bukan di Lembah Mandalawangi, tapi ini tu romantis! Pemandangan luasnya Suryakencana, langit biru, dan duduk bersama orang yang Anda sayangi, can't life better than that?!

Kami datang di musim kemarau. Kami dapat langit biru dan cuaca cerah, tapi tidak dengan gemericik sungai yang mengalir di Suryakencana. Harusnya sungai yang airnya terus berganti, tapi kami bersyukur dengan adanya 'genangan' air ini.

Codet yang jadi bapak rumah tangga sedang memasak untuk makan sore sekaligus makan malam kami. Masak di alam bebas ituuuu.... Sesuatu. Apalagi klo jago masaknya. Surgawi banget jadinya.

Another perfect moment. Hari itu sedang bulan purnama. Believe it or not, foto ini gw jepret jam 16.45an. A beautiful and romantic moon. Waktu ngeliatnya, dada terasa sesak, kagum dengan keindahan ciptaan Alloh yang satu ini.
Malamnya, kami memustuskan untuk tidak kemana-mana dan tidak ngapa-ngapain. Tidur, karena badan rasanya mau rontok banget.

Inilah 'bayaran' dari lelah kami. Pemandangan dari atas yang luar biasa dan cuaca yang sempurna. Angin bertiup kencang membawa semua kabut entah kemana, everything is perfect!
Pagi jam 6an kami mulai naik. Melewati jalur berbatu, 25 menitan kemudian kami sudah sampai di puncak.
Bisakah kamu lihat sebuah garis yang ada di langit. Amazing isn't it?!

Dan kami pun mulai beraksi. Tripod is our photographer!



Kami kemudian turun dari puncak jam 07.30, mengejar waktu agar dapat segera pulang ke Jakarta. Tapi sebelumnya kami isi tenaga dulu. Makan mie instan surgawi ala chef Codet. :P

Dan sebuah foto terakhir sebelum kami meninggalkan indahnya Suryakencana. Jam 9.30 kami mulai bergerak turun. Menembus cuaca aneh Suryakencana. Aneh, anginnya berhembus dingin, namun terik matahari sedikit memanaskan kulit. Adios Suryakencana. Grazie!
*Another version

Miko.
Lapangan Banteng, 2 Pebruari 2012