Halaman

Senin, 07 Mei 2012

Monumen Pancasila Sakti

Udah lama pengen banget ke Monumen Pancasila Sakti. Maklum, sebagai peminat cerita G-30S/PKI, hal-hal yang berhubungan dengannya selalu menarik perhatian saya. Setelah sebelumnya berkunjung ke 'rumah' Pak A. Yani dan Pak Nasution, destinasi peninggalan peristiwa G-30S/PKI berikutnya tentu monumen ini. Pengen liat langsung lubang buaya, tempat dimana 7 Pahlawan Revolusi 'dikuburkan' secara biadab oleh PKI. Tujuh orang yang 'dikorbankan' demi revolusi Indonesia.
Letak Lubang Buaya ada di Cipayung - Jakarta Timur, jauh cyiinn.... Berhubung gw punya bakat alami untuk kesasar klo pergi-pergi naik motor, akhirnya gw memutuskan untuk naik angkutan umum aja biar praktis dan gak makan banyak waktu.
Mode transportasi paling gampang buat ke Lubang Buaya ya naik TransJakarta Busway. Transit di Halte-Dengan-Jembatan-Penyebrangan-Terpanjang-Dunia-Akherat Semanggi, ambil yang ke arah Cawang. Klo ditanyain ama abang-abang busway, bilang aja mau ke Pinang Ranti. Klo udah transit, lanjutkan perjalanan ke arah Pinang Ranti, turun di halte Cawang UKI buat transit lagi. Ntar buswaynya jalan ampe mentok di Pinang Ranti. Dari halte busway perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot yang ke arah kanan. Klo gak salah K-40 apa ya. Bilang aja mau ke Lubang Buaya. Gak jauh kok, sekitar 15 menitan. Monumennya ada di sebelah kanan.
Berikut jepretan saya disana.
Gerbang yang akan menyambut Anda. Perjalanan masih panjang, jauh. Gw dulu sih karena masih muda dan bertenaga ya jalan kaki aja. Sekitar 10 menitan. Tapi klo Anda tipe orang yang manja atau lemah, di gerbang itu ada ojek kok.

Klo udah liat gerbang ini berarti udah deket dengan TKP. Disini kita beli karcis. Lupa. Klo gak salah sekitar 2.500.



Museum Pemberontakan PKI

Pertama-tama kita akan masuk ke Museum Pemberontakan PKI ini. Isinya diorama-diorama berdasarkan urutan waktu kejadian.
Pengunjung yang sedang melihat-lihat diorama. Lihatlah pra masa depan Indonesia ini sedang mempelajari sejarah bangsanya. Agar kelak mereka belajar dari kejadian di masa lalu. :D
Ruang diorama Museum Pemberontakan PKI.
Diorama tentang pergerakan PKI
Koleksi foto museum tentang kesadisan PKI.
Diorama kongres nasional PKI
Koleksi museum
Koleksi museum berupa senjata yang digunakan PKI saat memberontak.
Selesai dari Museum Pemberontakan PKI, ada jembatan yang menghubungkan kita ke museum berikutnya yaitu Museum Paseban.
Museum Paseban
Museum Part I yang berisi diorama malam pemberontakan PKI.
Foto 7 Pahlawan Revolusi.
Museum Part II berisi benda-benda koleksi yang berhubungan dengan malam pemberontakan.
Benda pribadi milik Jenderal A. Yani
Tabung oksigen yang digunakan untuk mengevakuasi jenazah Pahlawan Revolusi
Tulisan tangan Ade Irma Suryani, putri Jenderal A.H. Nasution yang tewas saat malam pemberontakan.
Radio yang digunakan pada saat mengevakuasi jenazah Pahlawan Revolusi
Museum Part III berisi koleksi foto-foto pada saat evakuasi dan pemakanan pahlawan revolusi.
Salah satu koleksi foto. Panser pembawa jenazah Jend. A. Yani.
Panser Ceraceen yang digunakan untuk membawa jenazah Pahlawan Revolusi untuk dimakamkan.
Gerbang keluar dari kompleks museum. Berikutnya ke Lubang Buaya dan Monumennya.
Mobil Jenderal Ahmad Yani pada saat menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat
Mobil dinas Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto tahun 1965
 
Lubang Buaya dan Monumen Pancasila Sakti
Gerbang Monumen Pancasila Sakti
Area Monumen Pancasila Sakti. Dibawah atap itulah terdapat Lubang Buaya.
Torturing Verandah (Serambi Penyiksaan) yang digunakan untuk menawan dan menyiksa para Pahlawan Revolusi.
Rumah di sebelah Torturing Verandah

Di bawah atap inilah terdapat Lubang Buaya.

Kotak dan rantai lubang buaya

Sumur Maut, sumur sedalam 12 meter dan diameter 75 cm ini digunakan untuk mengubur pahlawan revolusi.
Monumen Pancasila Sakti

Suasana di depan Monumen Pancasila Sakti
 Peristiwa G-30S/PKI memang masih menjadi kejadian yang diselimuti kabut tebal. Tapi tetap saja, suatu saat kebenaran pasti terungkap. Seperti pesan Bapak Soeharto pada saat beliau mundur sebagai presiden "Becik ketitik, ala ketara." Benar dan salahnya pasti akan kelihatan.
Pada tahun 1960-an Indonesia memang sedang dilanda krisis ekonomi. Dan Bung Karno masih tetap menjabat sebagai Presiden yang belum memberikan solusi atas krisis ekonomi. Kudeta merangkak pun seolah disiapkan. IMHO, Bung Karno itu tetap tokoh favorit masyarakat. Kudeta yang frontal bisa mengakibatkan perpecahan di berbagai penjuru nusantara. Oleh karena itu diperlukan suatu rencana kudeta yang hati-hati dan matang, pemberontakan PKi inilah yang menurut saya menjadi alternatif caranya.
Suatu saat, saya akan tau apa yang sebenarnya terjadi. Atau setidaknya yang kira-kira benar terjadi pada saat itu.

6 komentar:

  1. nice. sedikit ralat mas. Becik Ketitik, Ala Ketara. Itu artinya Hal2 baik biasanya ga akan kelihatan (seperti titik), tapi hal2 yg jelek walaopun sedikit saja akan kelihatan (ketara). Itu pepatah jawa. :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sip nih, btw disana ada sepeda yg disewa muat ber4 itu ga? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak ada gan. Hahaha....
      Bawa sepeda aja dari rumah. hehe...

      Hapus
  4. sory gan mau tanya nih, tau ga rute awal dr tangerang ke lubang buaya? soalnya ane bener2 buta arah :D

    BalasHapus

Komen Anda mencerminkan diri Anda.