Laman

Jumat, 30 Maret 2012

Menyusuri Reruntuhan Candi Ratu Boko


Nama Candi Boko memang tidak sepopuler Candi Borobudur ataupun Candi Prambanan. Namun tetap saja, candi adalah peninggalan sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang. Walau hanya berupa tumpukan batu, candi menceritakan banyak hal kepada kita, hanya saja kadang kitanya yang tidak bisa dan tidak mau bisa untuk 'membaca' apa yang diceritakan oleh batu-batu candi.
Letak Candi Boko yang berada di 196 mdpl menyuguhkan pemandangan yang bikin cenat-cenut hati. Karena masih kurang terkenal, lokasinya juga sepi dan masih hijau. Suasana yang bikin kita jadi kangen band buat balik lagi ke tempat ini.

Mengusung misi untuk menghadiri pernikahan seorang teman di Magelang, gw dan temen gw memutuskan untuk terlebih dahulu berjalan-jalan di Jogja. Sudah lama gw pengen mengunjungi Candi Prambanan. Candi yang sangat legendaris, selegendaris Candi Borobudur.


Kamis, 29 Maret 2012

A Close Stranger


Berawal dari twitnya @AnakPetir, kenangan gw mengangkasa ke masa lalu. Kalau bisa kembali ke masa lalu, apa yang benar-benar ingin gw ulang?

Kemudian gw teringat akan mbah kakung. Mbah yang gak pernah gw ajak ngobrol. Seorang Mbah yang tiap pagi buta, saat dunia masih berkabut, berlari-lari kecil untuk menyehatkan raganya. Mbah kakung yang rajin sekali sholatnya, yang taat ibadahnya.

Entah kenapa setiap gw liat wajah mbah, gw merasa punya chemistry dengan beliau. Gw merasa kami memiliki sudut pandang, selera, dan passion yang sama. Gw merasa melihat kepribadian gw pada diri beliau.
Sekarang pengen banget ketemu ama mbah kakung trus ngobrol tentang masa lalu beliau. Apalagi buat seorang peminat sejarah, gw seharusnya bisa mendengarkan cerita jaman perjuangan sama mbah, dan melihat bagaimana 'jaman dulu' dari mata beliau.

Waktu itu lagi liburan sekolah, seperti biasa gw menghabiskan liburan di rumah orang tua. Pada suatu hari, mamak manggil gw, katanya gw dipanggil sama mbah kakung. Aneh. Kami berdua bisa dibilang gak pernah ngobrol, kami saling menatap dengan tatapan mata 'stranger', dan tiba-tiba mbah manggil gw?
Rupanya mbah sedang berbaring di ranjangnya sambil merintih seperti sedang menahan sakit. Disitu ada mbah putri dan juga bapak. Kami berempat duduk disekeliling mbah kakung, mbah putri sedang memijat-mijat kaki mbah kakung. That awkward moment. Sepertinya mbah kakung merasa inilah 'saatnya'. Walaupun ternyata mbah berumur lebih panjang dari hari itu.
Saat itu gw sadar. Walau kami gak akrab sebagai kakek dan cucu, tapi tetap saja kami memiliki hubungan yang erat, hubungan nasab, hubungan darah. Mbah ingin di saat-saat terakhirnya, dia bisa berkumpul bersama anak cucunya dan mengucapkan semacam kata perpisahan.

Hingga suatu hari. Asisten rumah tangganya mbak jemput gw di sekolah. Gw diminta pulang. Sebagai anak SD gw sih seneng-seneng aja. Di rumah ternyata mbak lagi packing, kata mbak "Mbah Wir ninggal." Gw gak tau mesti bereaksi seperti apa. Yang gw pikirin adalah rasa senang karena akan ketemu orang tua di kampung.
Sesampainya di kampung, mbah udah dikafanin. Anak cucunya duduk di sekitarnya. Saat itu gw masih merasa biasa aja. Mungkin karena gw gak terlalu akrab dengan beliau, jadi gak merasa kehilangan. Rasa kehilangan yang datangnya sangat terlambat di kemudian hari.

Andai bisa kembali ke masa lalu, gw pengen banget ngobrol sama mbah kakung. Pengen denger cerita-ceritanya dan nasehat-nasehatnya. Pengen menatapnya dengan tatapan seorang cucu kepada kakeknya. Menyesal memang tiada berguna, tapi lebih baik daripada tidak merasakan apapun. Hanya doa yang bisa menghubungan kami. Doa yang oleh Alloh disambungkan dengan aliran darah, dengan nasab.

Kamis, 15 Maret 2012

Touchdown Semarang dan Pertama Kali.....

Assalamu'alaikum...


Moment pertama biasanya jadi moment yang tak terlupakan. Misalnya pertama kali ke Jakarta atau hari pertama masuk kerja. Kali ini, gw kembali mengalami moment 'Pertama Kali' yang sebenarnya norak untuk diketahui publik. Heheh.... Setelah bertahun-tahun hidup, akhirnya gw ngerasain juga yang namanya naik pesawat, dan penerbangan pertama saya dilakukan bersama maskapai paling *uhuk* di Indonesia, Lion Air.

First Flight 

Le My First Plane
 Tanggal 1 Oktober 2011. Nervous pun datang, berjuta pertanyaan datang, yang intinya "Bagaimana menjadi penumpang pesawat terbang yang baik dan benar sesuai dengan Perundang-undangan yang berlaku di Republik Indonesia dan sesuai dengan tuntunan syariah." Maklum, anak kampung, orang susah pula. Gw dulu terbiasa pergi kemana-mana jalan kaki, termasuk untuk sekedar beli bakso di pasar yang jauhnya sekitar 20 kilometer. Menembus rimba raya, sawah, dan perkampungan. Nah ini beda, gw bepergian lewat 'atas', lewat 'langit', yang pastinya beda banget.

Waktu itu gw pergi bareng Hasan ke Semarang untuk menghadiri pernikahan teman. Alasan klise yang 'melegalkan' gw untuk pergi kemana pun di seluruh Indonesia. Setelah duduk manis di pesawat, melihat-lihat keluar dari jendela yang kebetulan tepat berada di sisi kanan gw. Sebelumnya udah dibilangin sih ama Hasan, pas take off pesawat akan 'bergetar' dan akan sedikit bikin parno. Tapi setelah take off, ternyata biasa aja tuh. Seolah gw pernah mengendarai kendaraan yang lebih 'bergetar' dari pesawat.

Cuaca cerah, pemandangan dari pesawat terlihat sangat indah. Dan terlihat sebuah puncak gunung, subhanalloh....
Yang paling 'sesuatu' penerbangannya ya waktu pesawatnya berbelok, sebuah moment yang 'OMG OMG OMG OMG OMG OMG!!!' That. Mini. Heart attack.
Setelah pesawat landing dan penumpang keluar dr pesawat, dalam hati langsung membayangkan gw sujud di landasan dan teriak "I'm Aliveeeee!!!"



Pusing-Pusing Semarang

Waktu itu kami ke Semarang hari Sabtu-Minggu, tapi hari Minggu pagi udah harus balik ke Jakarta, karena kehabisan tiket kereta untuk Minggu sore. Alhasil di Semarang cuma bisa mengunjungi Kota Tua dan Lawang Sewu.
Gereja Blenduk
Eksotisme Kota Tua


Akhirnya kesampean juga berkunjung ke Lawang Sewu. Nuansa mistisnya gak terlalu kerasa sih, cuma gelap aja yang terkadang mendramatisir perasaan.

Lawang Sewu



Konon dari sini sering terdengar suara tangisan perempuan
I have no idea what I'm doing
Harusnya bisa diberdayakan nih. Misalnya dijadikan Mall. :P

Ruang yang menceritakan tentang proses pemugaran Lawang Sewu. Orang Belanda masalah bikin bangunan emang jago deh. Awet ampe puluhan tahun. Mungkin karena mereka menganggap bangunan sebagai investasi penting baik secara ekonomi dan kebudayaan, makanya dibuatnya dengan baik dan duitnya gak dikorupsi. :P



Adios Semarang! Terima kasih atas pengalaman berharganya. Semoga lain kali dapat kembali berkunjung dan menjelajah lagi.


Miko.
Lapangan Banteng, 15 Maret 2012.