Laman

Kamis, 31 Desember 2015

Gunung Slamet Di Penghujung 2015


Assalamualaikum....
Setelah sekian lama gak naik gunung, akhirnya rasa rindu ini terobati juga. Akhir September Vigor ngajak ke Gunung Slamet, buat gue yang udah ngebet pengen naik gunung, kemana aja gue ikut lah. Asal jangan ke gunung sahari deh. Setelah cek jadwal dan biaya, gue sepakat berangkat ke Slamet berempat bareng Vigor, Yosi, dan Martin. Bastian diajakin kagak mau, kondisi keuangannya lebih parah dari Yunani, bahkan saat gue tawarin pinjaman pun gak mau karena Debt To Equity Ratio-nya juga gak kalah buruk. Akhirnya dengan hati gundah kami berangkat berempat. Tak dinyana, walau berempat ternyata tetep asyik, ya mungkin karena kami udah sering naik bareng sih. *apeu*

Planning
Sebulan sebelum berangkat kami sudah membeli tiket kereta api Sawung Galih bisnis Pasar Senen - Purwokerto yang akan berangkat Pukul 18.00 WIB dan sampai pada Pukul 23.15 WIB lebih dikit. Gue yang mesen dan beli tiketnya, dan ini jadi pengalaman yang gak akan gue lupakan, karena gue salah mesen tiket. Gue salah memahami susunan kursi kereta, sehingga kami berempat duduk terpisah, gak ada satupun dari kami yang sebangku dengan anggota lainnya. Dan gue paling ngerasa bersalah ama Martin, karena dia duduk sebangku ama mas-mas ngehe yang naro tasnya dibangku dan mengurangi jatah duduk Martin. Wkwkwkwk..... Sorry sob. Untung tiket pulang yang gue pesen bener posisi duduknya. Hehe...
Pukul 17.00 WIB kami bertiga berangkat teng-go dari kantor. Karena kekhilafan gue dan ketidakpekaan Yosi dan Martin, KAMERA GUE KETINGGALAN DI LOBBY KANTOR! Aaakkkkk.....!!!!
"Coy nitip kamera bentar, gue mau pipis." Tapi rupannya yang dititipi (sebut saja Yosi dan Martin) terlalu asyik ngobrol, mereka bahkan gak tau klo gue baru aja lewat di samping mereka!
Yosi berangkat ke stasiun naik ojek, gue dan Martin naik bajay. Pas sampe Pasar Baru, gue baru nyadar kok bawaan gue 'enteng'. Mini heart attack. Untungnya ada Uway yang berhasil mengamankan dan mengantarkan kamera gue ke stasiun. Sampai blog ini dibuat, gue masih berhutang makan siang ke uway. Hehe....

Kereta berangkat tepat Pukul 18.00 Waktu Stasiun Senen. Yup, waktu stasiun Senen, jadi klo mau bepergian naek kereta api jangan berangkat mepet-mepet ya. Karena kami berempat duduk terpisah, jadilah kami duduk bareng orang-orang asing yang tentu saja gak bisa diajak ngobrol. Yasud, tidurlah.
Pukul 23.15 WIB kami sampai di Stasiun Purwokerto, Vigor sebelumnya udah nelpon CP mobil yang mau nganterin kami ke base camp. Namun karena belum deal dengan harganya yang mentok di Rp350.000, akhirnya Vigor membatalkan pesanan dan nyari mobil di parkiran stasiun. Ternyata di parkiran stasiun ada 6-8 mobil van disewakan, mereka membentuk semacam paguyuban di stasiun tersebut. Sewanya juga lebih murah, Rp240.000 sampai base camp, itu udah all-in ya.
Kami segera berangkat setelah sebelumnya beli air mineral di minimarket stasiun. Yosi duduk di depan, gue, Martin, Vigor di tengah. Martin & Vigor langsung tidur, Yosi yang memang berbakat jadi PR/Humas, ngobrol ama drivernya yang klo gak salah namanya Krisyanto. Beliau mengenalkan tentang Kota Purwokerto, makanan khasnya, tempat nongkrong paling hits, dan tempat wisatanya, termasuk tentang Gang Sadar yang jadi pusat wisata birahi di Purwokerto. Hhhh.... Di tengah perjalanan, gue yang gak bisa tidur dan cuma diem aja dengerin bapaknya ngobrol ama yosi, gue mendengar perkataan bapaknya yang bikin gue dan yosi terdiam..... "Saya kan ditugaskan di *kantor polisi*, saya diperbantukan di stasiun mas, jadi pembina Polsus." Glekh! Untung yosi gak terlalu excited bahas Gang Sadar dan nanya yang aneh-aneh.
Kira-kira jam 01.00 WIB lebih kami sampai di base camp Bambangan. Mobil tidak bisa mengantar sampai base camp, cuma smp gerbang, trus kami jalan kaki deh ke base camp. Kami langsung beristirahat di base camp.

Day One - 31 Oktober 2015
Subuh pukul 05.00 WIB gue sholat subuh di mushola di bawah base camp. Karena abis tidur pake sleeping bag, gue gak terlalu kedinginan. Gue melangkah ke mushola dengan PDnya, gak pake jaket dan cuma kaos dan celana panjang. Abis wudhu badan gue bergetar dahsyat karena kedinginan, udah gitu ada mas-mas yang mau makmuman ama gue. Alhasil bacaan sholat jahr gue diselingi gemertak suara gigi yang beradu karena kedinginan.
Kami repacking, menikmati matahari pagi Bambangan yang syahdu, sambil nungguin warung depan base camp yang udah rame banget ama pendaki, saking ramenya ampe keabisan nasi dan kami harus nunggu dulu nasinya mateng. Yaelah sob....

Pukul 07.15 WIB kami mulai pendakian. Tak lupa sebelum berangkat berdoa dan lapor ke headquarter yang dijaga Bastian. Wkwkwkwk....
Gunung Slamet adalah versi extended-uncut-uncencored-unrated dari Gunung Ciremai. Jalurnya terus naik tanpa ada 'bonus', ya paling bonusnya lapangan bola itu doang. Nanjaaaaakkkk terus sampe puncak. Latihan fisik gue selama ikut Krav Maga sama sekali gak membantu. Harusnya gue lebih sering jogging sebelum naik Slamet.Baru berangkat dari base camp udah harus gaspol. Kami sempat beristirahat di lapangan bola. FYI, dari base camp kalian bisa langsung ambil jalur ke kiri membelah perkebunan, kami mengambil jalan yang 'berbeda' dengan berjalan terus sampe ujung aspal. Ternyata jalur yang belok-kiri lebih enak.
Pukul 09.15 WIB kami sampai di Pos I Pondok Gemirung. Waktu tempuh kurang lebih 2 jam, sesuai dengan 'standar' waktu pendakian Slamet. Di Pos I kami beristirahat, di sini ada pedagang yang menjual beraneka makanan dan minuman. Yosi tiba-tiba pengen minum jus jeruk, lalu ia pun memesannya. Namun kemudian ia kecewa karena ternyata jus jeruk yang diminum bukan dari jeruk asli dan kebanyakan air sehingga malah gak seger dan agak pait. "Yah bukan jeruk asli nih. Kayanya jeruk yang sachetan." Lalu kami namai peristiwa itu The Jasjus Incident. Wkwkwwk....
Kami istirahat 15 menit di setiap pos. Well, kami istirahat kapan aja sih sebenernya, capek berenti. Wkwkwk.... Gue pun kelelahan dan berat banget mau jalan. Entah karena kurang latihan fisik, kurang makan, atau manajemen ngemil gue yang gak bener. Padahal kami sempat makan siang di Pos 5. Kami pun berjalan lebih lambat, karena gue yang jalannya lambat sih. Wkwkwkwk...
Namun herannya, waktu tempuh kami terpaut waktu yang sedikit. Walaupun ngesot-ngesot, ternyata waktu tempuh kami masih wajar tanpa pengecualian.

Sekitar Pukul 15.30 kami sampai di Pos 7, awalnya kami berniat camping di Pos 7, namun ternyata pos tersebut penuh dengan tenda, tidak ada lagi tempat untuk kami mendirikan tenda. Akhirnya kami terus naik, sepanjang Pos 7 - Pos 8 sebenarnya banyak tempat untuk mendirikan tenda, namun lagi-lagi kami kehabisan tempat. Kami mentok di Pos 8, Vigor menyampaikan ide gila buat ngecamp di Pos 9. Gue gak setuju karena tempatnya terbuka, gak ada pepohonan karena Pos 9 letaknya di batas vegetasi. Akhirnya kami terus naik, sambil mencari-cari siapa tau ada tempat buat ngecamp antara Pos 8 - Pos 9. Yosi dan Vigor meninjau Pos 9, gue ama martin jalan santai sambil nunggu laporan, kalo Pos 9 gak camp-able, kami nyari tempat di bawah. Pukul 17.00 WIB kami masih mencari tempat.
Di suatu tempat antara Pos 8 dan Pos 9 terdapat sebuah tempat yang sempit namun menurut gue dan Martin lebih camp-able daripada camping di batas vegetasi. Namun Vigor dan Yosi berpendapat klo Pos 9 masih human-friendly dan dapat didirikan tenda. Dua suara vs dua suara, dalam kondisi begini ini gue kesel bener Bastian gak ikut dan memberikan expert-opinion-nya. Ya at least bisa bikin jumlah suara jadi ganjil, klo abstain dorong aja ke jurang.
Akhirnya kami memutuskan camping di Pos 9 dengan segala risikonya. Sebagai teman yang baik gue berpesan ama Vigor, "Klo ada apa-apa lu yang gue salahin ya." Wkwkwkwk...
Friends fight, right?! And friends forgive.
Benar saja, Pos 9 tidak terlalu luas, luasnya ngepas dua tenda Lafuma Campo, lebih dikit buat naro sepatu. Tenda kami tepat di tepi 'jurang' atau 'sisi curam', dan hanya ada dua pohon kurus di dekat tenda. Patok tenda ditancapkan baik-baik, agar kuat menahan angin. Belum lagi kondisi tanah yang miring kearah jurangnya. Bukan bermaksud cengeng, tapi ya gak gini juga. Setelah makan kami langsung tidur.
Pos I
Pos 4
Pos 7
Papan tanda Pos 9
Camp kami di Pos 9

Pemandangan dari tepi tenda kami di Pos 9

Day Two - 1 November 2015
Gue beberapa kali terbangun, dinginnya luar biasa, gue ngerasa klo sleeping bag gue (somehow) 'bocor'. Beberapa kali gue bangun buat benerin posisi tidur, benerin sleeping bag, benerin jacket, benerin kaos kaki. Baru kali ini gue ngecamp kedinginan. Seharusnya masuk tenda aja udah anget, masuk sleeping bag tidur nyenyak, nah ini masih menggigil.
Tapi ada keunikan lain di Pos 9. Gak ada tiupan angin sama sekali! Bener-bener malam yang tenang. Tadinya gue ngebayangin tenda bakal diterpa angin kencang, gue udah mikirin gimana klo anginnya kenceng banget trus patok tenda sampe kecabut. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya.
Di luar gue denger ada suara-suara orang ngobrol dan masak. Bukan, mereka bukan 'tenda lain', tapi orang-orang yang nunggu pagi sambil masak dibawah flysheet. Ada juga yang 'ngumpet'  di balik batu untuk menghindari angin dingin. Niat amat mas. Klo hypothermia kan bahaya, di pos paling atas pula, kan susah evakuasinya.

Esok paginya Martin cerita klo dia yang setenda ama gue malemnya juga bangun-bangun, dan dia liat gue tidur kedinginan sampe gemeretak gigi-gigi gue. Wow. Segitu dinginnya ya. Waktu gue bangun sih gue liat Martin gak sampe beradu gigi kedinginan, tapi ngeringkel lebih ekstrim dari biasanya. Wkwkwk....
Bagian paling menguntungkan dari camping di Pos 9 adalah lu gak perlu summit attack. Wkwkwk.... Karena lu tinggal keluar tenda, maka lu akan liat pemandangan sunrise yang sama dengan pemandangan puncak. Wohoooo....
Kami excited ngeliat sunrise, dan lega karena semalem tenda kami gak terbang kebawa angin.
Selesai foto-foto, kami summit sekitar pukul 06.00 WIB. Sewaktu di base camp gue udah ngerasa kayanya pendakian minggu ini rame bener, dan hal ini bisa dirasakan karena saat summit pun kami harus antri dengan pendaki lain. Kami berempat akhirnya terpisah karena kondisi fisik yang berbeda, summit cuma berbahan bakar energen ternyata gak cukup sob.
Jalurnya curam, pasir dan bebatuan membuat pendakian summit jadi sulit. Ini kombinasi puncak Kerinci + Semeru. Banyak juga orang-orang yang menyerah dan turun, yang gue lihat bukan ekspresi kecewa/sedih namun ekpresi "Gila ni gunung. Pulang aja deh gue."
Pukul 07.15an WIB gue sampai di puncak. Alhamdulillah.... Lega dan bahagia yang luar biasa, "Menderita banget gue buat ke puncak ini."
Kami duduk-duduk menikmati suasana alam sambil melepas lelah. Trus ikutan ngantri foto-foto. Wkwkwk....
Pukul 09.00 WIB kami sudah di Pos 9 dan packing. Pukul 09.30 kami turun. Dan ternyata turun dari Slamet gak segampang biasanya, entah kenapa kali ini terasa capek banget. Pukul 14.00 kami sudah sampai di base camp. Kami numpang mandi di rumah mas-mas penjual mie ayam. Sholat, kemudian packing pulang.
Untuk kembali ke base camp, kami nyarter mobil di gerbang Bambangan. Harga standarnya adalah Rp350.000 sampai stasiun. Pukul 16.30 WIB kami berangkat dari Bambangan, enaknya pulang sore, bisa sambil liat pemandangan kota Purwokerto.
Tepat saat adzan maghrib kami sampai di stasiun. Selesai sudah satu bab perjalanan gue. Puncak Jawa Barat, puncak Jawa Timur, dan baru saja menyelesaikan puncak Jawa Tengah.
Kami pulang naik kereta api Kutojaya Utara yang berangkat dari Purwokerto pukul 19.30 WIB dan sampai di Jakarta pada pukul 01.00 WIB.

Pemandangan sunrise dari tenda kami di Pos 9
  
Udah banyak yang summit
The Moon
 

Rekapitulasi waktu pendakian dapat gue perkirakan sebagai berikut:
Setiap pendakian selalu membawa cerita tersendiri. Biasanya gue naik bareng anak mapala atau ada satu anggota cewek, jadi ada yang masakin. Kali ini hanya kami berempat, yang masak Vigor, masak mie pula. Mie ya rasanya begitulah, klo di rumah enak tapi klo digunung belum tentu. Pendakian kali ini kami jarang makan, hanya mengandalkan energi dari cemilan. Gak bisa dibilang strategi yang salah, lha wong kami berhasil muncak kok. Hehehe.... Tapi kendala makanan ini bener-bener bikin menderita terutama waktu muncak karena perut kosong. Selain itu penderitaan juga datang karena gue gak latihan fisik sebelumnya. Overall ini pendakian yang seru dan memorable, terutama bagian kedinginnan di Pos 9. Tapi buka tenda dan langsung bisa liat sunrise itu seru! Terima kasih buat Martin dan Yosi karena sabar nungguin gue ngesot di belakang. Serta terima kasih buat Vigor yang udah bawain tas gue dari Pos 8 ke Pos 9. Wkwkwk....
Adios Slamet, adios Purwokerto! Grazzie!

"You will laugh at me if I tell you how weak I am. But I will laugh at you if you suggest me to quit."
Wassalamu'alaikum.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen Anda mencerminkan diri Anda.